Clear! Mentan Amran Jelaskan Fluktuasi Harga TBS Petani Sawit
Bogor — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan pemerintah tidak akan tinggal diam ketika menemukan praktik yang merugikan petani sawit. Menurut Mentan Amran, fluktuasi harga tandan buah segar (TBS) yang sempat terjadi beberapa waktu lalu merupakan anomali yang tidak sejalan dengan kondisi pasar global sehingga perlu segera ditangani untuk melindungi jutaan petani sawit Indonesia.
Penjelasan tersebut disampaikan Mentan Amran saat menjawab pertanyaan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) IPB, Abdul Aziz, dalam kegiatan Ministerial and Top Executive Lecture Series yang menjadi bagian dari Dies Natalis ke-25 Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University di Auditorium Andi Hakim Nasution, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Kamis (11/6/2026).
Dalam dialog tersebut, Abdul Aziz mengapresiasi capaian pemerintah yang berhasil mempercepat target swasembada pangan nasional. Menurutnya, keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa target yang semula diproyeksikan tercapai dalam empat tahun mampu diwujudkan jauh lebih cepat.
"Saya bangga dengan Bapak. Bapak menjanjikan swasembada pangan dalam empat tahun, tetapi dalam waktu sekitar satu tahun sudah bisa tercapai. Di tengah berbagai krisis pangan dan geopolitik global, ini tentu menjadi capaian yang luar biasa," kata Aziz.
Aziz kemudian mempertanyakan strategi pemerintah dalam menjaga surplus beras nasional ke depan sekaligus menyoroti fenomena fluktuasi harga TBS yang sempat menjadi perhatian petani sawit.
"Saya ingin menagih janji Bapak mengenai swasembada pangan. Bagaimana strategi pemerintah agar surplus beras kita bisa terus meningkat dan berkelanjutan? Selain itu, saya juga ingin mengetahui penjelasan Bapak mengenai harga TBS sawit yang sempat mengalami penurunan di tingkat petani," tanyanya.
Menanggapi hal itu, Mentan Amran memaparkan bahwa Indonesia saat ini berada dalam posisi yang kuat di tengah krisis pangan dan energi global. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras nasional mencapai sekitar 34,6 juta ton. Sementara itu, stok beras nasional mencapai sekitar 5,3 juta ton, tertinggi sejak Indonesia merdeka.
"Kita janji empat tahun, alhamdulillah bisa lebih cepat. Tetapi ini bukan karena saya. Ini hasil kerja keras semua pihak, mulai dari petani, akademisi, pemerintah daerah, hingga seluruh rakyat Indonesia," kata Mentan Amran.
Mentan Amran menambahkan bahwa sektor pertanian juga mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tertinggi dalam 25 tahun terakhir.
"Alhamdulillah, Indonesia saat ini menjadi salah satu rujukan dunia dalam sektor pangan. Tantangannya memang berat, tetapi kita mampu membuktikan bahwa Indonesia bisa menjaga ketahanan pangannya," ujarnya.
Terkait harga TBS sawit, Mentan Amran mengaku persoalan tersebut menjadi perhatian serius pemerintah. Bahkan, saat menjalankan ibadah haji di Tanah Suci, dirinya menerima berbagai keluhan dari petani mengenai turunnya harga TBS di tingkat lapangan.
Mentan Amran menceritakan bahwa saat berada di Masjidil Haram dirinya sempat berbincang dengan petani sawit yang mengeluhkan anjloknya harga TBS. Tak lama setelah itu, Presiden juga menghubunginya dan meminta agar persoalan tersebut segera diselesaikan.
"Saya sedang di Tanah Suci ketika mendapat laporan soal harga TBS yang turun. Begitu selesai ibadah, saya mendapat telepon dari Presiden. Beliau meminta agar persoalan ini segera diselesaikan karena menyangkut kehidupan jutaan petani sawit Indonesia," ungkap Mentan Amran.
Menurut Mentan Amran, penurunan harga TBS saat itu tidak sesuai dengan kondisi pasar global. Harga minyak sawit dunia sedang meningkat dan nilai tukar dolar Amerika Serikat juga menguat. Dalam kondisi normal, harga yang diterima petani seharusnya ikut meningkat.
"Harga dunia naik, dolar menguat, tetapi harga TBS justru turun. Ini anomali. Hukum pasar berlaku di seluruh dunia, tetapi saat itu tidak tercermin pada harga yang diterima petani. Karena itu saya minta persoalan ini ditelusuri dan segera diperbaiki," tegasnya.
Mentan Amran mengatakan pemerintah langsung mengambil langkah cepat setelah menerima laporan tersebut. Setibanya di Indonesia, ia segera berkoordinasi dengan berbagai pihak dan mengambil langkah tegas untuk melindungi petani sawit.
"Begitu saya kembali ke Indonesia, saya langsung menyurat kepada Pak Kapolri. Tangkap yang main-main, titik. Saya tidak ingin petani dirugikan. Ada sekitar 17 juta orang yang menggantungkan hidup pada sektor ini," tegas Mentan Amran.
Menurut Mentan Amran, langkah cepat tersebut mulai menunjukkan hasil. Harga TBS yang sebelumnya tertekan kini berangsur membaik dan mengalami kenaikan signifikan.
"Alhamdulillah sekarang harga sawit sudah mulai naik. Kenaikannya sudah mencapai sekitar 80 sampai 90 persen dibandingkan saat persoalan itu pertama kali kami tangani," ujarnya.
Mentan Amran menegaskan bahwa negara harus hadir ketika petani menghadapi persoalan yang berpotensi merugikan mereka. Karena itu, pemerintah akan terus mengawasi tata niaga sawit agar berjalan secara adil dan transparan.
Pada kesempatan yang sama, Mentan Amran mengajak mahasiswa untuk terus mengawal pembangunan pertanian nasional melalui inovasi, riset, dan kewirausahaan. Menurutnya, keberhasilan menjaga ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani memerlukan kolaborasi seluruh elemen bangsa.
"Jangan berhenti mencoba. Gagal, coba lagi. Gagal, coba lagi. Bangsa ini membutuhkan generasi muda yang berani berjuang, berani mencari solusi, dan hadir untuk menyelesaikan masalah rakyat," pungkas Mentan Amran.
