Dari Lahan Kering Ke Lumbung Pangan Strategi Baru Kementan

Dari Lahan Kering ke Lumbung Pangan, Strategi Baru Kementan

Dari Lahan Kering ke Lumbung Pangan, Strategi Baru Kementan

Kupang- Kementerian Pertanian (Kementan) meluncurkan program strategis dengan menyiapkan 10.000 hektar lahan di 19 provinsi di Indonesia guna memperkuat ketahanan pangan nasional. 

Langkah ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menjamin ketersediaan pangan yang berkelanjutan di tengah tantangan global.  Sebagai langkah awal, jajaran Kementan melakukan peninjauan langsung terhadap kesiapan tanam serentak di lokasi lahan CSR yang terletak di Desa Manusak, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) Kamis (02/04/2026).

Peninjauan difokuskan pada tiga aspek krusial: kesiapan teknis lahan, ketersediaan sumber air, serta kelancaran distribusi sarana produksi pertanian (saprodi).  

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pemanfaatan lahan CSR merupakan solusi inovatif untuk memperluas areal tanam untuk meningkatkan hasil produksi.  

"Program ini krusial untuk mencapai kemandirian pangan dan mengurangi ketergantungan pada impor karenanya ketahanan pangan adalah pilar utama ketahanan negara. Dengan menyiapkan lahan baru untuk produksi pertanian, kita sedang membangun fondasi yang lebih kuat untuk masa depan pangan Indonesia, Saya instruksikan seluruh jajaran untuk memastikan lahan-lahan CSR di 19 provinsi ini produktif. Kita mulai dari NTT, kita tunjukkan bahwa dengan teknologi dan kemauan, lahan kering pun bisa jadi lumbung pangan," ujar Mentan Amran.  

Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menekankan pentingnya peran sumber daya manusia dalam mengelola lahan-lahan potensial tersebut.  

"Lahan yang luas tidak akan berarti tanpa kolaborasi, dan penguatan seluruh penyuluh dan petani  di lokasi CSR ini. Kita pastikan mereka menguasai teknologi mekanisasi agar dapat meningkatkan indeks pertanaman dan produktifitas terus meningkat," tegasnya.  

Dalam peninjauan di Kabupaten Kupang, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian (Kapusluh), Tedy Dirhamsyah, memberikan perhatian khusus pada aspek teknis dan manajerial lapangan.  

"Kunci sukses tanam serentak adalah ketepatan waktu. Kami telah memverifikasi kesiapan teknis di lapangan, mulai dari pola tanam hingga ketersediaan air dilokasi CSR serta Koordinasi dengan pihak terkait juga berjalan sangat baik untuk memastikan distribusi benih dan pupuk tidak terlambat sampai ke tangan petani," jelas Tedy.  

Di lokasi yang sama, Kepala SMK PP Negeri Kupang, Bogarth K. Watuwaya, menyatakan kesiapan institusinya sebagai garda terdepan dalam pengawalan lahan CSR di wilayah NTT.  

"Sebagai unit pelaksana teknis di daerah, SMK PP N Kupang terlibat langsung dalam penyiapan lahan dan pendampingan teknis. Kami memastikan ketersediaan sumber air di Desa ini mencukupi untuk mendukung gerakan tanam serentak. Siswa dan guru kami terjunkan untuk menjadi bagian dari solusi ketahanan pangan lokal dan nasional," ungkap Bogarth.  

Turut hadir dalam kegiatan peninjauan lokasi CSR antara lain Kepala BBPP Kupang, Perwakilan BRMP NTT, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Prov. NTT, Kepala Dinas Petranian Kab. Kupang seta penyuluh pertanian dan Brigade Pangan.  

Program pemanfaatan 10.000 ha lahan CSR ini diharapkan tidak hanya menjadi proyek sesaat, tetapi menjadi model berkelanjutan bagi kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta. Target jangka pendek adalah terlaksananya Tanam Serentak Nasional di seluruh lokasi CSR pada musim tanam ini.  

Kedepan, Kementan memproyeksikan perluasan areal tanam di lahan-lahan marginal dan lahan CSR lainnya untuk mencapai target swasembada pangan berkelanjutan. Dengan kolaborasi semua pihak terkat dari pesat sampai daerah, Indonesia optimis mampu menghadapi tantangan perubahan iklim dan dinamika geopolitik global melalui kedaulatan pangan dari daerah.

Share: